Toko Harapan Jadi Titik Ketakutan: Premanisme Kembali Bayangi Warga Surabaya

Chibernews co.id, Surabaya, 15 Juni 2025 — Di tengah riuh kehidupan malam Kota Surabaya, aroma keresahan menyelimuti sebuah toko sembako rakyat di Jalan Pecindilan No. 8. Bukan karena harga bahan pokok yang melambung, melainkan ulah premanisme jalanan yang kembali menunjukkan taringnya.

Sabtu malam, 14 Juni 2025, sekitar pukul 19.15 WIB, suasana mencekam menyelimuti toko milik Aldi. Keponakannya, Khomaidi Aziz (20), yang baru pulang dari kulakan beras, tiba-tiba dihadang dan dimaki oleh seorang juru parkir bernama Moch. Choiri (49), warga Randu Jaya, Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran.

Alih-alih menerima uang parkir, Choiri justru mengamuk tanpa sebab jelas. Ia mengancam akan menutup toko, menantang duel, bahkan memaksa korban keluar dari rumah. Upaya damai yang dilakukan oleh paman korban, Suki Mulyo, justru memicu kemarahan lebih hebat dari pelaku. Sekitar pukul 21.00 WIB, Choiri meninggalkan lokasi sambil mengeluarkan ancaman akan kembali tengah malam—meninggalkan trauma bagi penghuni rumah dan warga sekitar.

Bacaan Lainnya

Informasi dari Babinsa Koramil 0830/15 Genteng, Serka Andy Wahyu W., menyebutkan bahwa Choiri bukan nama baru dalam catatan hitam premanisme Surabaya. Ia diketahui baru keluar dari lembaga pemasyarakatan karena kasus pemalakan terhadap para pekerja proyek gorong-gorong milik Pemkot Surabaya.

Merespons kejadian tersebut, unsur tiga pilar langsung turun tangan. Kasi Bangtib Kelurahan Kapasari, tim intel Korem 084, serta Unit Intel Kodim 0830 menggelar koordinasi cepat di lokasi kejadian. Langkah mediasi pun dijadwalkan berlangsung di Kantor Polsek Genteng pada Minggu sore, 15 Juni 2025.

Tak menunggu lama, Senin dini hari (16 Juni 2025) pukul 00.30 WIB, korban dengan pengawalan Babinsa dan Intel Kodim resmi melaporkan insiden tersebut ke Polsek Genteng. Laporan diterima oleh Aiptu Nyoman dan kini sedang diproses oleh Unit Reskrim.

Kejadian ini memantik gelombang simpati dari masyarakat. Banyak warga mengaku selama ini hanya bisa diam, bukan karena tidak paham hukum, tapi karena takut terhadap ancaman dan kekerasan yang bisa menimpa mereka sewaktu-waktu.

> “Tiap malam kami deg-degan. Bukan takut dagangan nggak laku, tapi takut anak-istri jadi sasaran kemarahan tukang parkir,” ungkap seorang pemilik warung kopi di sekitar lokasi kejadian.

Insiden ini menjadi cermin realitas pahit Surabaya yang belum sepenuhnya bebas dari praktik premanisme terutama di kawasan ekonomi kelas bawah. Ketika tempat mencari nafkah justru berubah menjadi ajang intimidasi, maka kehadiran negara dan aparat penegak hukum menjadi sangat krusial.

Kini, harapan warga bertumpu pada sikap tegas aparat dan Pemerintah Kota Surabaya. Mediasi saja tidak cukup. Masyarakat mendesak tindakan hukum yang tegas dan transparan demi menjamin rasa aman serta menegakkan keadilan.

Karena bagi mereka, toko kecil itu bukan sekadar tempat usaha melainkan lambang perjuangan hidup dan harga diri yang tak boleh diinjak oleh siapa pun, apalagi oleh mereka yang membawa kekerasan di balik pungutan liar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *