Klarifikasi Dugaan Kasus Penganiayaan Santri di Sumenep, Pihak Pesantren Angkat Bicara

Chibernews.co.id, Sumenep – Menyusul pemberitaan berjudul “Dugaan Balas Dendam Berujung Brutal, Santri Dianiaya hingga Harus Operasi” yang dimuat oleh Kompas Nusantara.id, pihak terkait yakni pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin langsung memberikan klarifikasi guna meluruskan sejumlah informasi yang dinilai belum sepenuhnya utuh.

Pihak Yayasan pondok pesantren sangat menyesalkan pemberitaan yang beredar terkait peristiwa di lingkungan pesantren yang disusun secara tidak berimbang dan tidak melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan, khususnya pihak pesantren sebagai institusi yang secara langsung disebut dalam pemberitaan tersebut. Lebih jauh, narasi yang dibangun dalam pemberitaan tersebut berpotensi memicu gesekan sosial di masyarakat, karena menggiring opini secara sepihak tanpa didasarkan pada fakta yang utuh dan terverifikasi

Peristiwa yang terjadi di ponpes tersebut memang dibenarkan adanya. Namun, pihak pesantren menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai tindakan balas dendam terencana maupun praktik kekerasan sistematis seperti yang berkembang di pemberitaan awal.

Menurut Kh. Hodri, insiden tersebut merupakan konflik antar santri yang terjadi secara spontan dan di luar pengawasan langsung pengurus pada saat kejadian berlangsung. Pihak pesantren juga menyatakan telah segera mengambil langkah penanganan, termasuk memberikan pertolongan medis kepada korban.

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Namun perlu kami tegaskan bahwa tidak ada kebijakan ataupun pembiaran terhadap tindakan kekerasan di lingkungan pesantren, Yayasan Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin memiliki komitmen yang kuat terhadap pembinaan disiplin, pendidikan akhlak, serta perlindungan terhadap seluruh santri, dan kami tidak pernah mentolerir tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, kami menolak dengan tegas segala bentuk framing yang menggiring opini seolah-olah Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin membiarkan atau mentolerir kekerasan. Hal tersebut adalah tidak benar dan tidak berdasar ” ujarnya;

Masih kata Kh. Hodri, komunikasi dengan pihak keluarga korban sampai saat ini juga terus dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan baik serta menjaga kondusivitas.

“Sampai saat kami sudah berupaya mempertemukan kedua belah pihak, namun untuk kedua orang tua baik korban maupun pelaku sudah memasrahkan sepenuhnya kepada pihak pesantren,” ujarnya.

Terakhir, kyai muda ini menghimbau kepada seluruh masyarakat khususnya kepada para alumni untuk tidak merespon terlalu berlebihan dan tetap mengedepankan jiwa santri yang agamis dan religius.

“Kami himbau untuk para alumni kalau ingin merespon pemberitaan tersebut tetap kedepankan adab dan sopan santun agar tidak memperkeruh suasana,” pungkasnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *