Chibernews.co.id, Jakarta – Di tengah gelombang keresahan sosial dan politik, sosok Rektor Universitas Indonesia (UI) mendapat sorotan publik. Ia disebut sebagai rektor paling bijak, lantaran dengan teguh hati melepaskan mahasiswa-mahasiswinya turun ke jalan bergabung dalam barisan perjuangan melawan ketidakadilan dan kezaliman.
Keputusan ini dianggap berani, mengingat banyak pemimpin kampus memilih diam dan tak bersuara di tengah situasi negeri yang bergolak. Namun sang rektor justru berdiri di garda depan, memberikan pesan moral yang menggugah hati.
“Jangan tercerai-berai,” ucapnya tegas, seraya menekankan bahwa perjuangan mahasiswa menghadapi negara dengan kekuatan besar. Meski begitu, optimisme tampak jelas di wajahnya: persatuan diyakini mampu mengalahkan kekuatan apa pun.
Pesan itu dianggap sebagai pengingat penting tentang sejarah bangsa. Saat kemerdekaan diraih, para pendahulu tak bersenjata canggih, hanya berbekal bambu runcing dan persatuan yang kokoh. Senjata modern kala itu pun kalah oleh tekad rakyat yang bersatu.
Sang rektor juga menyinggung runtuhnya rezim Orde Baru. Ia mengingatkan bagaimana mahasiswa dulu berjuang dengan darah, air mata, hingga nyawa, demi sebuah perubahan. Kini, refleksi itu kembali terasa: rakyat masih dibebani penderitaan, sementara elit menikmati kelonggaran hukum lewat amnesti dan abolisi.
Sikap sang rektor dinilai sebagai cermin keberanian moral seorang intelektual yang tak berpaling dari amanat sejarah. Baginya, suara mahasiswa adalah suara bangsa, dan suara persatuan adalah kekuatan sejati.
“Sehat terus Rektor Universitas Indonesia,” ujar salah satu mahasiswa usai mendengar pesannya, menegaskan bahwa harapan kini bertumpu pada keberanian mereka yang berani bersuara.