Chibernews.co.id, Sumenep – Polemik pembatalan kegiatan Uniba Musicvers 2026 di lingkungan Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura kian memanas. Panitia penyelenggara secara resmi melayangkan surat keberatan terbuka kepada Ketua Yayasan dan pimpinan UNIBA Madura, menyusul keputusan pembatalan kegiatan yang dinilai mendadak dan merugikan.
Kegiatan yang sedianya digelar pada 20 Juni 2026 tersebut sebelumnya telah dipersiapkan secara matang dengan menghadirkan sejumlah bintang tamu, di antaranya Irwan DA 2, Ardea, serta artis asal India Muhammed Afsal.
Panitia menyebut, sejak awal seluruh proses persiapan telah dilakukan secara profesional dan telah dikoordinasikan dengan pihak rektorat. Bahkan, menurut panitia, tidak ada penolakan dari unsur pimpinan universitas terhadap pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan tersebut.
Namun, saat persiapan telah memasuki tahap akhir dan berbagai kebutuhan teknis hampir rampung, panitia mengaku justru menerima keputusan pembatalan dari pihak yayasan hanya sekitar lima hari sebelum acara berlangsung.
Keputusan tersebut, menurut panitia, tidak hanya mengejutkan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar terkait konsistensi kebijakan kampus.
Dalam surat keberatannya, panitia mengungkapkan bahwa alasan pembatalan yang disampaikan antara lain karena dokumen administrasi dinilai belum lengkap, seperti belum adanya persetujuan dari kepala desa. Selain itu, panitia juga disebut tidak diperbolehkan menjalin kerja sama dengan pihak luar, termasuk perusahaan media yang mendukung pendanaan kegiatan.
Panitia menilai alasan tersebut janggal dan kontradiktif. Sebab, beberapa hari setelah pembatalan Uniba Musicvers 2026, lingkungan kampus justru digunakan untuk kegiatan musik lain yang menghadirkan artis populer, Valen.
Panitia bahkan menduga terdapat perlakuan yang berbeda terhadap kegiatan kemahasiswaan dibandingkan kegiatan lain yang melibatkan pihak eksternal tertentu.
“Ketika kegiatan mahasiswa dibatalkan dengan alasan administrasi dan larangan kerja sama dengan pihak luar, justru muncul kegiatan lain yang disebut dapat berlangsung tanpa kendala setelah berkomunikasi langsung dengan pihak yayasan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar kebijakan yang diterapkan,” tulis panitia dalam surat keberatannya.
Akibat pembatalan yang terjadi di detik-detik terakhir tersebut, panitia mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit. Selain biaya promosi, pencetakan tiket, dan pengeluaran operasional yang telah dikeluarkan, panitia juga mengaku mengalami kerugian moril berupa menurunnya kepercayaan publik serta tercorengnya reputasi organisasi penyelenggara.
Atas dasar itu, panitia mendesak pihak yayasan dan pimpinan universitas untuk memberikan penjelasan resmi terkait alasan pembatalan kegiatan. Mereka juga meminta dilakukan evaluasi terhadap mekanisme perizinan kegiatan kemahasiswaan, termasuk meninjau dugaan adanya penyalahgunaan kewenangan dalam proses pengambilan keputusan.
Tak hanya itu, panitia juga meminta adanya penyelesaian yang adil terhadap kerugian material yang telah ditanggung akibat pembatalan mendadak tersebut.