BUMDes Torongrejo Budidaya Ayam Petelur, Optimalkan Dana Ketahanan Pangan 2025

Chibernews.co.id, Kota Batu — Program ketahanan pangan Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui BUMDes, 20 persen Dana Desa tahun 2025 digunakan untuk membangun usaha ayam petelur dengan sistem kandang baterai.

Direktur BUMDes Torongrejo, Supriyanto, menyampaikan dana sebesar Rp 238.250.000 telah cair ke rekening desa pada awal Oktober 2025. Dana tersebut langsung dialokasikan untuk pembangunan kandang dan pembelian pullet.

“Kami langsung membangun kandang baterai. Sekaligus memesan 800 ekor pullet umur 16 minggu, jadi begitu masuk kandang sudah siap masuk masa produksi,” ujar Supriyanto, Rabu (15/7/2026).

Hadapi Kenaikan Pakan dengan Efisiensi
Tantangan utama saat ini adalah lonjakan harga pakan. Di awal program harga masih Rp 6 juta per ton. Kini sudah naik menjadi Rp 7,7 juta per ton.

Dengan populasi 800 ekor, kebutuhan pakan mencapai hampir 3 ton per bulan. Artinya biaya pakan saja sudah menyentuh Rp 22,3 juta per bulan.

Untuk menjaga usaha tetap berjalan, BUMDes menerapkan sistem perawatan “irit tapi maksimal”:

1. Manajemen pakan : Mencampur sendiri jagung, konsentrat, dan dedak. Pakan diberikan 2 kali sehari, pagi dan sore, agar tidak terbuang.
2. Kebersihan kandang : Pembersihan kotoran dilakukan 2 kali seminggu. Penyemprotan desinfektan dilakukan 1 kali seminggu untuk mencegah penyakit.
3. Kesehatan : Vitamin diberikan 2 kali seminggu melalui air minum. Produksi telur juga dicatat setiap hari.

Saat ini ayam sudah berusia 42 minggu atau sekitar 10,5 bulan. Usia tersebut masih berada di puncak produksi yang biasanya berlangsung hingga 50 minggu.

“Target kami produksi di atas 85 persen dan angka kematian di bawah 5 persen. Jika dua hal itu terjaga, usaha akan terus berputar,” jelas Fitrianto.

Usulkan Tambahan Modal dan Stabilisasi Harga Dengan 800 ekor, produksi saat ini mencapai sekitar 40 kg telur per hari. Namun jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk memutar modal secara optimal.

BUMDes pun mengusulkan penambahan kapasitas menjadi 1500 sampai 2000 ekor. Dengan begitu, biaya tetap seperti gaji dan listrik bisa lebih efisien.

Skema pembagian hasil yang diusulkan adalah 60 persen untuk operasional, 20 persen untuk cadangan modal, dan 20 persen masuk PADes.

Selain itu, BUMDes juga meminta dukungan pemerintah untuk stabilisasi harga. Saat ini HPP 1 kg telur dari pakan saja sudah Rp 24.000, sementara harga jual di pasaran sempat mengalami penurunan.

“Kami memohon dukungan berupa subsidi pakan, tambahan modal kerja, serta penyerapan telur oleh Pemdes atau sekolah agar harga lebih stabil,” kata Fitrianto.

Supadi, Pengawas Kandang sekaligus Pengurus BUMDes Torongrejo, menegaskan pentingnya transparansi.

“Karena ini dana desa, pencatatan telur masuk, pakan keluar, dan uang harus jelas setiap minggu,” ujarnya.

BUMDes optimis, jika produksi terjaga dan ada dukungan tambahan, usaha ini dapat menjadi sumber ketahanan pangan sekaligus menambah pendapatan desa.

Pemerintah desa diharapkan segera menindaklanjuti usulan tersebut, agar program ketahanan pangan 2025 tidak berhenti di 800 ekor, tetapi bisa berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi warga Torongrejo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *