Chibernews.co.id, opini, Sumenep,- Ada satu pilihan yang harus ditentukan dalam kehidupan: bangkit melawan ketidakadilan atau terus diam hingga terbiasa hidup dalam penindasan
Diam bukan selalu berarti lemah. Namun, ketika diam justru memberikan ruang bagi kesewenang-wenangan, maka diam bisa berubah menjadi bentuk pembiaran terhadap ketidakadilan.
Sejarah selalu mencatat bahwa penindasan tidak hanya tumbuh karena adanya orang-orang yang berkuasa, tetapi juga karena terlalu banyak orang yang memilih bungkam. Mereka yang takut bersuara, mereka yang memilih aman, dan mereka yang menganggap ketidakadilan bukan urusannya.
Padahal, tidak ada kekuasaan yang pantas berdiri di atas penderitaan orang lain. Tidak ada jabatan yang memberikan seseorang hak untuk merendahkan martabat sesamanya. Dan tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan sewenang-wenang terhadap mereka yang memperjuangkan haknya.
Bangkit melawan bukan berarti harus mengangkat senjata, menciptakan keributan, atau membalas keburukan dengan keburukan. Melawan bisa dimulai dengan keberanian menyampaikan kebenaran, mengungkap ketidakadilan, menolak intimidasi, serta berdiri tegak ketika hak-hak dirampas.
Jangan sampai rasa takut membuat kita kehilangan harga diri. Jangan sampai ancaman membungkam suara kebenaran. Sebab, ketika seseorang terus-menerus dipaksa tunduk, lama-kelamaan ia bisa menganggap penindasan sebagai sesuatu yang wajar.
Kita tidak dilahirkan untuk menjadi budak kesewenang-wenangan. Kita punya hak untuk dihormati, didengar, dan diperlakukan secara adil.
Kini pertanyaannya sederhana: Apakah kita akan terus menundukkan kepala demi kenyamanan, atau mulai berdiri tegak demi harga diri dan keadilan?
Sebab, ketidakadilan tidak akan berhenti hanya karena kita memilih diam.
Lebih baik berdiri tegak memperjuangkan kebenaran daripada hidup berlutut di hadapan kesewenang-wenangan.
Lawan penindasan dengan keberanian, hadapi intimidasi dengan kebenaran, dan jangan pernah menyerah pada ketidakadilan.