“Saat Jabatan Berubah Jadi Senjata: Siapa yang Sebenarnya Takut?”

Chibernews.co.id, Sumenep,- Di balik gemerlap kekuasaan dan kewenangan, tersimpan satu pertanyaan penting: untuk apa sebenarnya jabatan digunakan? Apakah sebagai sarana pengabdian, atau justru berubah menjadi alat untuk menekan dan menakut-nakuti orang lain?

Fenomena penyalahgunaan jabatan kerap terjadi di berbagai lini kehidupan. Tidak sedikit oknum yang merasa dirinya “lebih tinggi” hanya karena memegang posisi tertentu. Dengan nada ancaman, sikap arogan, hingga tindakan intimidatif, jabatan dijadikan tameng untuk membungkam pihak lain. Ironisnya, tindakan seperti ini sering kali dilakukan secara sadar, seolah kekuasaan adalah hak mutlak yang bisa digunakan sesuka hati, Rabu, (06/05/2026).

Padahal, jabatan sejatinya bukanlah simbol kehebatan pribadi. Ia adalah amanah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Ketika masa jabatan berakhir, maka berakhir pula kewenangan yang melekat. Lalu, apa yang tersisa? Bukan kekuasaan, melainkan rekam jejak: apakah selama menjabat seseorang dikenang sebagai pemimpin yang bijak, atau justru sosok yang ditakuti karena kesewenang-wenangannya.

Mengandalkan rasa takut sebagai alat kepemimpinan adalah tanda rapuhnya integritas. Pemimpin yang kuat tidak membutuhkan ancaman untuk dihormati. Ia cukup menunjukkan keteladanan, keadilan, dan sikap humanis. Dari situlah kepercayaan tumbuh secara alami, tanpa paksaan.

Lebih dari itu, menjadikan jabatan sebagai alat intimidasi hanya akan merusak tatanan sosial. Rasa takut memang bisa menciptakan kepatuhan sesaat, tetapi tidak akan pernah melahirkan rasa hormat yang tulus. Bahkan, dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi yang diwakili.

Sudah saatnya cara pandang ini diubah. Jabatan bukan panggung untuk menunjukkan kuasa, melainkan ruang untuk melayani. Bukan alat untuk menekan, tetapi sarana untuk mengayomi. Ketika jabatan dijalankan dengan integritas, maka dampaknya akan dirasakan luas oleh masyarakat.

Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa sering seseorang menakut-nakuti orang lain dengan jabatannya. Sejarah hanya mengingat siapa yang menggunakan kekuasaan dengan bijak. Karena benar adanya: jabatan hanyalah sementara, tetapi cara seseorang mempergunakannya akan dikenang selamanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *