Nuansa Tiga Hari Pasca Idul Fitri di Kampung Halaman: Antara Tradisi, Refleksi, dan Realitas Sosial

Chibernews.co.id, Sumenep,- Tiga hari pasca Idul Fitri, suasana kampung halaman masih menyisakan hangatnya kebersamaan. Namun, menurut Ivan, seorang aktivis asal Sumenep, momentum ini bukan sekadar perpanjangan euforia lebaran, melainkan cermin dari dinamika sosial masyarakat yang kerap luput dari perhatian, Selasa, (24/03/2026).

Di berbagai sudut desa, tradisi silaturahmi masih berlangsung. Rumah-rumah warga tetap terbuka, hidangan khas lebaran masih tersaji, dan tawa kebersamaan terdengar meski tidak seramai hari pertama.

“Ini adalah fase di mana hubungan sosial diuji, bukan hanya dirayakan,” ujar Ivan. Ia menilai, hari ketiga menjadi momentum yang lebih jujur dalam melihat kualitas relasi antar warga.

Menurutnya, pada hari pertama dan kedua, silaturahmi cenderung bersifat formal dan seremonial. Namun memasuki hari ketiga, interaksi yang terjadi lebih cair dan reflektif. Warga mulai berbincang lebih dalam, tidak hanya soal kabar, tetapi juga persoalan hidup, ekonomi, hingga kondisi sosial di kampung.

Ivan juga menyoroti adanya kesenjangan yang tampak lebih jelas setelah hiruk-pikuk lebaran mereda.

“Di balik kemeriahan, ada realitas yang tidak bisa diabaikan. Tidak semua warga merasakan kebahagiaan yang sama. Ada yang masih bergelut dengan kesulitan ekonomi, bahkan setelah lebaran berlalu,” tegasnya.

Ia menambahkan, fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama, khususnya bagi para pemangku kebijakan di daerah. Menurut Ivan, semangat Idul Fitri yang identik dengan kepedulian sosial semestinya tidak berhenti pada pemberian zakat atau bantuan sesaat, tetapi berlanjut dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil.

Lebih jauh, Ivan menilai bahwa hari ketiga pasca lebaran juga menjadi titik balik bagi para perantau yang bersiap kembali ke kota. Suasana haru mulai terasa, dan kampung perlahan kembali ke ritme normal.

“Di sinilah terlihat bahwa lebaran bukan hanya soal pulang, tetapi juga tentang meninggalkan dengan harapan bisa kembali dalam keadaan yang lebih baik,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ivan menegaskan bahwa nuansa tiga hari setelah Idul Fitri seharusnya tidak dipandang sebagai akhir dari perayaan, melainkan awal dari kesadaran baru. Kesadaran untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Lebaran sejatinya bukan hanya momentum tahunan, tetapi pengingat bahwa kebersamaan dan kepedulian harus terus hidup, bahkan setelah suasana perayaan usai,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *