Chibernews.co.id, Bali – Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diguncang bencana banjir besar pada pekan lalu. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 23 orang meninggal dunia, 8 orang dinyatakan hilang, 3 orang luka-luka, serta lebih dari 11 ribu jiwa terdampak. Selain itu, lebih dari 300 rumah mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga hanyut tersapu arus.
Banjir tersebut dipicu cuaca ekstrem akibat kombinasi aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator, Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO). Meski kondisi darurat mulai terkendali dan memasuki masa transisi pemulihan, ancaman serupa kini bergeser ke wilayah Jawa.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, saat meninjau lokasi terdampak di Denpasar, Rabu (10/9), menegaskan perlunya langkah antisipatif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko hujan lebat di wilayah padat penduduk dengan mengalihkan intensitas curah hujan ke perairan,” ujarnya.
BNPB mengerahkan pesawat Cessna Caravan untuk operasi penyemaian awan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Di Jawa Timur, OMC dilakukan dari Pangkalan Udara TNI AL Juanda sejak Sabtu (13/9) dengan cakupan Lamongan, Bojonegoro, Tuban, hingga perairan Banyuwangi. Sebanyak 800 kilogram NaCl dan 1.600 kilogram CaO disebar ke atmosfer.
Sementara di Jawa Barat, operasi serupa dijalankan dari Lanud Halim Perdanakusuma pada Minggu (14/9). Sebanyak 800 kilogram NaCl dan 800 kilogram CaO ditebar di atas langit Pandeglang dan Bogor. Hasil pemantauan BMKG menunjukkan intervensi tersebut mampu menurunkan curah hujan di wilayah Jabodetabek hingga 31 persen.
BMKG memprakirakan hujan lebat berpotensi melanda Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta pada 12–14 September, serta berlanjut ke Jawa Timur pada 15–18 September. Dengan kondisi ini, BNPB mengimbau pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan dan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, termasuk drainase dan sungai, untuk meminimalkan risiko banjir.