Chibernews.co.id, NTT – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperbarui data korban gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga hari ketiga penanganan, jumlah korban yang berhasil dihimpun mencapai 202 orang.
Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, mengatakan dari total tersebut sebanyak 70 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 132 lainnya mengalami luka-luka.
“Total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang,” ujar Yudhi dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).
Dari 132 korban luka tersebut, sebanyak 40 orang mengalami luka berat dan 92 orang lainnya mengalami luka ringan.
Memasuki hari ketiga operasi, Basarnas menyebut proses pencarian mulai memasuki tahap akhir. Petugas kini lebih banyak melakukan penyisiran di sejumlah titik terdampak untuk memastikan tidak ada lagi warga yang masih dilaporkan hilang.
Yudhi menjelaskan, berdasarkan laporan masyarakat maupun informasi dari para korban dan keluarga, sejauh ini tidak terdapat laporan baru mengenai warga yang masih dalam pencarian.
“Operasi yang kita lakukan hanya tinggal penyisiran,” katanya.
Selain melakukan penyisiran, personel Basarnas juga diarahkan untuk mendukung proses pemulihan dan penanganan medis bagi para korban, terutama di wilayah yang aksesnya relatif sulit.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. Di kawasan tersebut, tim gabungan turut memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
“Hari ini kami turut membantu perkuatan tim kesehatan sesuai arahan Bapak Menkes, khususnya di daerah terdampak cukup besar dan sulit dijangkau, seperti di Lamba Leda,” ujar Yudhi.
Sementara itu, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkap adanya perbedaan angka korban luka antara data Basarnas dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Menurut Berton, Kemenkes mencatat sebanyak 1.182 orang mengalami luka-luka berdasarkan jumlah warga yang mendapatkan pelayanan di berbagai fasilitas kesehatan.
“Jumlah korban luka-luka berdasarkan data Kementerian Kesehatan adalah 1.182 orang. Namun, perbedaan data tak perlu dipermasalahkan karena memang dasar perhitungannya yang berbeda,” jelas Berton.
Ia menerangkan, data Basarnas dihimpun berdasarkan korban yang ditemukan langsung dalam proses operasi di lapangan. Sementara itu, data Kemenkes bersumber dari jumlah masyarakat yang mendapatkan pelayanan medis di fasilitas kesehatan.
Dengan demikian, perbedaan angka tersebut lebih berkaitan dengan metode pendataan masing-masing instansi, bukan semata-mata menunjukkan adanya perbedaan informasi mengenai kondisi korban.
Hingga kini, penanganan pascagempa terus dilakukan secara terpadu. Selain memastikan proses pencarian dan penyisiran berjalan, pemerintah dan tim gabungan juga memprioritaskan pelayanan kesehatan serta pemulihan masyarakat di wilayah yang terdampak cukup parah dan sulit dijangkau.