Sumenep, Chibernews.co.id,- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan semakin menjamurnya kendaraan listrik, masih ada sekelompok orang yang bertahan dengan cara hidup yang sederhana. Mereka adalah para abang becak yang setiap hari mengayuh pedal, menembus panas, hujan, dan lelah demi membawa pulang rezeki untuk keluarga, Kamis, (16/07/2026).
Motor listrik mungkin menjadi simbol kemajuan zaman. Lebih cepat, lebih praktis, dan lebih modern. Namun, di balik kemajuan itu, ada roda-roda becak yang perlahan semakin jarang berputar karena penumpangnya beralih ke moda transportasi yang dianggap lebih efisien.
Abang becak bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah potret perjuangan yang mengandalkan tenaga sendiri untuk menghidupi keluarga. Setiap kayuhan pedal adalah bukti kerja keras, kesabaran, dan kejujuran. Mereka tidak meminta belas kasihan, hanya berharap masih ada ruang untuk mencari nafkah di tengah perubahan zaman.
Modernisasi memang tidak bisa dihentikan. Teknologi akan terus berkembang dan masyarakat akan terus berubah. Namun, kemajuan seharusnya tidak membuat kita lupa pada mereka yang masih bertahan dengan keterbatasan. Menggunakan jasa abang becak sesekali bukan berarti menolak kemajuan, melainkan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, mungkin yang terkikis bukan hanya keberadaan becak, tetapi juga rasa empati kita. Selama masih ada abang becak yang setia mengayuh pedal, selama itu pula masih ada pelajaran tentang kerja keras, ketulusan, dan martabat yang layak kita hormati.
Karena di balik setiap kayuhan pedal yang mulai kalah oleh motor listrik, tersimpan cerita tentang manusia yang memilih terus berjuang daripada menyerah pada keadaan.