PEMDA Sumenep Lalai, Warga Jadi Korban: Karapan Sapi Berdarah Bukti Gagalnya Pengawasan!

Chibernews.co.id, Sumenep – Di tengah gegap gempita lomba Karapan Sapi “Piala Bupati Sumenep 2025”, Minggu (22/6), tragedi merobek langit kegembiraan. Satu nyawa melayang. Tiga warga luka parah. Dan semua itu terjadi bukan karena bencana alam, tapi karena kelalaian manusia lebih tepatnya, kelalaian PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP.

Pagar tua, miring, dan rapuh di sisi timur Lapangan Giling yang selama ini hanya jadi saksi bisu dari pembiaran dan minimnya perawatan akhirnya runtuh dan menimpa penonton. Bukan baru kali ini dipakai acara. Bukan baru kali ini penuh penonton. Tapi kenapa TIDAK PERNAH ADA PEMELIHARAAN LAYAK?

Pemkab Sumenep kemana? Mengapa infrastruktur publik dibiarkan rusak? Kenapa lokasi yang akan digunakan untuk event besar dihadiri ribuan orang dan bahkan menyandang nama BUPATI tidak disterilkan dan diaudit terlebih dahulu?

Ini bukan sekadar insiden. Ini adalah kegagalan. Gagal merawat. Gagal mengawasi. Gagal melindungi.

Korban jiwa, Sueb (60), warga Batu Putih, menghembuskan napas terakhir di rumah sakit karena tertimpa tembok. Ia tidak mencari mati. Ia hanya ingin menonton budaya tanah kelahirannya. Tapi apa yang ia dapat? Kematian akibat tembok bobrok dan sistem pengamanan yang tak layak.

Tiga korban lainnya, dilarikan ke rumah sakit dengan luka serius. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan mereka? Siapa yang mengganti biaya pengobatan mereka? Siapa yang menjamin keamanan penonton lain di gelaran berikutnya?

Pemerintah Kabupaten Sumenep jangan hanya pandai berpose di depan kamera saat acara pembukaan! Jangan cuma hadir untuk menyematkan piala dan menyebut tradisi ini “kebanggaan Madura,” kalau tidak bisa menjamin keselamatan warganya!

Pertanyaan besar untuk Pemkab Sumenep:

Siapa yang melakukan pengecekan kelayakan lapangan?

Mengapa pagar tua tidak dibongkar atau diperkuat?

Dimana SOP keamanan acara?

Apakah budaya hanya jadi ajang seremonial tanpa empati?

Kini satu keluarga berkabung. Tiga lainnya terbaring sakit. Dan warga Sumenep bertanya-tanya: Apakah ini harga yang harus dibayar demi hiburan sesaat?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *