KAPTEN HARIS YULIANTO, SEKOCIMU SELAMAT, TAPI 241 NYAWA KAU TINGGALKAN DI KEGELAPAN

Chibernews.co.id, Surabaya,- Di saat 241 penumpang KM Virgo Transport 8 tidur pulas dalam pelayaran dari Surabaya ke Banjarmasin, di saat kapal berputar tiga kali dan miring di tengah Laut Jawa pada Minggu dini hari 13 September 2026 pukul 02.00 WIB, sang Nakhoda yang seharusnya menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal, justru menjadi orang PERTAMA yang kabur.

Menurut kesaksian korban selamat, Hilarius, tidak ada alarm. Tidak ada evakuasi. Tidak ada teriakan “pakai pelampung”. Yang ada hanya bel panjang yang berbunyi sekali lalu padam, lampu mati, dan gelap total.

“Teriak minta pelampungnya, pokoknya tidak ada respon,” kata Hilarius.

Di dalam kegelapan dan kepanikan itu, di saat seorang ibu hamil 6 bulan memeluk bayi 17 bulannya sambil berteriak minta tolong, di saat suami istri hanya berpegangan pada satu pelampung oranye, apa yang dilakukan sang Kapten?

Ia menurunkan sekoci. Diam-diam. Bersama Markonisnya. Dan kabur.

Dua orang. Dua nyawa diselamatkan dengan sekoci. Sementara 241 nyawa lainnya dibiarkan berebut maut di laut.

Rinto, penumpang lain, menguatkan, “Sekoci itu kaptennya dulu naik. Ada satu orang yang lihat, kapten dan ABK duluan nurunin sekoci.”

Haris Yulianto, tahukah kau arti kata NAKHODA?

Nakhoda itu bukan sopir. Nakhoda itu adalah bapak dari semua penumpang di atas kapal. Dalam hukum laut di seluruh dunia, kapten adalah orang TERAKHIR yang boleh meninggalkan kapal. Kapten harus memastikan semua penumpang selamat dulu, baru dia boleh selamat.

Kau membalik hukum itu. Kau menjadikan dirimu penumpang pertama yang selamat, dan menjadikan 241 orang yang membayar tiket kepadamu sebagai tumbal.

Kau selamat tiba di Banjarmasin. Kau dapat perawatan medis. Kau sekarang diperiksa Kementerian Perhubungan.

Lalu bagaimana dengan Nurul Rian Hidayat, ABK-mu yang pulang dalam peti biru ke Teja Timur? Bagaimana dengan Arin 17 bulan yang menunggu ayahnya? Bagaimana dengan ratusan penumpang yang sampai hari ini masih hilang di Laut Jawa dan belum ditemukan jasadnya?

Sekocimu selamat, Haris. Tapi kemanusiaanmu tenggelam lebih dalam dari kapalmu sendiri.

Jika benar kau kabur, maka tenggelamnya Virgo Transport 8 bukan karena ombak. Tapi karena nahkodanya sudah lebih dulu tenggelam moralnya sebelum kapalnya tenggelam.

Kami tidak butuh alasan “cuaca buruk”. Kami tidak butuh alasan “teknis”.

Kami butuh keadilan.

Untuk 243 nyawa yang kau tinggalkan dalam keadaan lampu mati dan tanpa pelampung, di tengah laut jam 2 pagi.

Seharusnya kau yang terakhir melompat. Bukan yang pertama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *