Hari Ke-7 Pencarian Arupadhatu 1: Delapan Orang Masih Hilang di Selat Sunda, Sejumlah Life Jacket Ditemukan

Chibernews.co.id, Banten — Tim SAR gabungan dari Banten dan Lampung masih terus melakukan pencarian terhadap delapan orang yang berada di kapal cepat Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Memasuki hari ketujuh pencarian, Senin (14/9/2026), delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut belum diketahui keberadaannya. Operasi pencarian terus diperluas dengan melibatkan sejumlah kapal dan unsur pencarian dari wilayah Banten maupun Lampung.

Kapal cepat Arupadhatu 1 sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Lima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut yakni M Bagus Khoirunnas, fotografer Antara Banten; Ari Basuki, jurnalis Merdeka; Yudhis, jurnalis iNews; Daus, jurnalis Anadolu; serta Donal, jurnalis freelance.

Sementara tiga kru kapal masing-masing Warta selaku nakhoda atau kapten, Sukarman/Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu atau guide.

Berdasarkan informasi Basarnas Banten, laporan mengenai kapal yang hilang kontak diterima pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu, Antara Banten.

Sebelum komunikasi terputus, kontak terakhir dengan rombongan tercatat pada Senin sekitar pukul 14.42 WIB. Selanjutnya, komunikasi dilaporkan terputus sekitar pukul 15.04 WIB.

Lokasi komunikasi terakhir berada di koordinat 6°14’40.52″S 105°40’49.48″E, atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan.
Sejumlah Petunjuk Ditemukan
Pada operasi pencarian hari keenam, Minggu (13/9/2026), tim SAR gabungan menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan kapal cepat Arupadhatu 1.

KRI Teluk Gilimanuk yang melakukan pencarian selama sekitar sembilan jam di Sektor V menemukan satu buah terpal dan satu life jacket pada pukul 08.55 WIB.

Kedua benda tersebut ditemukan di posisi 06°02’174 S – 105°49’844 T, tepatnya di perairan selatan Pulau Sangiang.

Sementara itu, KAL Anyer yang melakukan penyisiran di Sektor W menemukan satu life jacket pada pukul 09.45 WIB. Benda tersebut ditemukan di koordinat 06°01.99’S – 105°52.82’E, di wilayah sebelah selatan Teluk Belimbing.
Temuan lainnya diperoleh KM Bima. Kapal tersebut menemukan sebuah life jacket berwarna oranye pada pukul 09.58 WIB di koordinat 6°9’44.04″S – 105°27’29.07″T, sekitar Pulau Rakata.

Pencarian juga diarahkan dari kawasan Gunung Anak Krakatau menuju sejumlah wilayah perairan di sekitarnya.
RIB 02 Lampung melakukan penyisiran selama kurang lebih delapan jam. Pada pukul 10.15 WIB, tim menemukan sebuah terpal dan satu galon merek Aqua di koordinat 6°2’52.51″S – 105°40’23.13″T.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan sejumlah benda tersebut ditemukan dalam pelaksanaan operasi pencarian hari keenam.

 “Di Sektor V, KRI Teluk Gilimanuk yang melakukan pencarian selama sekitar sembilan jam menemukan satu buah terpal dan satu buah life jacket,” ujar Al Amrad dalam keterangan rilisnya, Minggu (13/9/2026) malam.

Setelah menemukan benda tersebut, RIB 02 Lampung kemudian melanjutkan penyisiran menuju Pulau Sangiang.
Meski sejumlah benda telah ditemukan di beberapa titik, hingga berakhirnya operasi hari keenam belum ada informasi yang memastikan keberadaan delapan orang yang berada di dalam Arupadhatu 1.

Operasi SAR juga diperluas hingga sejumlah wilayah perairan Lampung.
KRI Kerambit melakukan pencarian selama sekitar sembilan jam di perairan barat Krui, Lampung. Namun, pencarian tersebut belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

KN SAR Basudewa dan KN SAR Antasena juga menyisir wilayah selatan Teluk Semaka, Lampung. Pencarian di kawasan tersebut turut melibatkan KP Sanjaya, KRI Lepu, KP 2016 dan KP 2013.
Berdasarkan laporan pelaksanaan operasi SAR hari keenam, seluruh unsur yang melakukan pencarian di wilayah perairan Lampung belum menemukan hasil.

Di sekitar Gunung Anak Krakatau, KN SAR Tetuka melakukan pencarian selama kurang lebih sembilan jam di sebelah tenggara GAK. Sementara RIB 02 Banten menyisir perairan sekitar GAK ke arah tenggara dengan radius hingga lima kilometer dari kawasan Anak Krakatau.
KM Garuda dan KM Bima juga melakukan penyisiran di sekitar Pulau Sertung dan Pulau Rakata.

Selain pencarian melalui jalur laut, tim SAR melakukan pemapelan dan E-Broadcast kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian, termasuk wilayah Selat Sunda, Lampung hingga Bengkulu.

Namun, hingga operasi hari keenam berakhir, upaya tersebut belum menghasilkan informasi mengenai keberadaan delapan orang yang masih dalam pencarian.

Operasi SAR Memasuki Hari Ketujuh
Memasuki hari ketujuh, Senin (14/9/2026), tim SAR gabungan masih melanjutkan operasi pencarian dengan memperluas area penyisiran berdasarkan hasil evaluasi dan perkembangan di lapangan.

Temuan sejumlah life jacket, terpal, dan galon menjadi bagian dari petunjuk yang terus ditelusuri oleh tim. Kendati demikian, benda-benda tersebut masih perlu ditindaklanjuti dan diverifikasi untuk memastikan keterkaitannya dengan Arupadhatu 1.

Operasi pencarian akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, keselamatan personel, arus laut, serta perkembangan situasi di sekitar Gunung Anak Krakatau dan perairan Selat Sunda.

Keluarga dan rekan-rekan para korban hingga kini masih menantikan kabar mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut.

Tim SAR gabungan terus berupaya menemukan titik terang dalam pencarian, dengan harapan delapan orang yang masih dinyatakan hilang dapat segera ditemukan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *