Chibernews.co.id, Sumenep, — Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang serba cepat, hadir sosok pemuda yang namanya kian dikenal karena dedikasinya di bidang sosial dan kesehatan. Ia adalah Ahmad Maimun, S.H., seorang pemuda asal Sumenep yang tanpa jabatan struktural pemerintahan mampu meringankan beban ratusan warga yang membutuhkan pertolongan medis, Sabtu, (7 Februari 2026).
Maimun bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana di lingkungan agraris yang menanamkan nilai kerja keras, ketulusan, dan kepedulian sejak dini. Nilai-nilai itulah yang kini menjelma menjadi aksi nyata dalam bentuk pendampingan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di balik aktivitas kemanusiaannya, Maimun memiliki kesibukan profesional yang tak kalah padat. Ia tercatat sebagai advokat magang di kantor hukum A. Effendi & Rekan. Namun, kesibukan di dunia hukum tidak mengurangi komitmennya untuk tetap siaga membantu warga. Panggilan darurat kerap datang di luar jam kerja, bahkan larut malam.
Warga mengenalnya sebagai sosok yang “tidak mengenal jam tidur”. Saat kebanyakan orang beristirahat, Maimun justru kerap mengantar pasien kritis ke rumah sakit, mendampingi proses administrasi, hingga menunggu tindakan medis selesai. Tak jarang, ia harus bermalam di rumah sakit demi memastikan pasien yang didampinginya mendapat penanganan maksimal.
Fokus bantuannya mencakup berbagai kebutuhan medis, mulai dari pemeriksaan mata, penanganan benjolan, gondok, hernia, hingga ambeien. Ia bahkan turut mengawal proses operasi pasien sampai tuntas.
“Siapapun yang butuh saya, saya akan bantu proses pemeriksaan itu tanpa melihat dia orang mana,” ujar Maimun menegaskan prinsip kemanusiaan yang ia pegang.
Prinsip tersebut membuat pengabdiannya tak terbatas pada satu wilayah atau kelompok tertentu. Baginya, kebutuhan medis adalah urusan kemanusiaan yang melampaui sekat identitas.
Rasa haru kerap datang dari keluarga pasien yang ia bantu.
“Kamu bukan kepala desa, Nak, juga bukan aparat, tapi kamu mau membantu kami tanpa pamrih,” ungkap salah satu keluarga pasien dengan mata berkaca-kaca.
Dedikasi tanpa pamrih ini mendapat perhatian dari manajemen RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Pada Sabtu sore (6/2), Direktur RSUD, dr. Erliyati, M.Kes., menerima langsung kunjungan Maimun dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat.
Dalam kesempatan itu, dr. Erliyati menyampaikan apresiasi atas konsistensi Maimun membantu masyarakat mengakses layanan kesehatan. Ia menilai kehadiran relawan seperti Maimun menjadi mitra strategis rumah sakit dalam menjangkau warga yang membutuhkan pendampingan.
“Kami sangat berterima kasih. Semoga makin banyak pemuda yang sigap membantu sesama dalam aspek kesehatan,” ujar dr. Erliyati.
Ia juga menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus berbenah dan terbuka terhadap masukan dari masyarakat.
“Kami sangat menerima kritik dan saran karena tanpa masyarakat, kami bukan apa-apa. Kami berterima kasih karena banyak warga terbantu lewat pendampingan Mas Maimun,” tambahnya.
Maimun pun menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan RSUD saat ini.
Ia menilai perubahan pelayanan semakin dirasakan masyarakat dan memuji sikap terbuka manajemen rumah sakit terhadap kritik serta saran demi peningkatan mutu layanan.
Kisah Ahmad Maimun menjadi pengingat bahwa kepahlawanan sosial tidak selalu lahir dari jabatan atau kewenangan formal. Di tengah langkahnya meniti karier sebagai calon pengacara, ia tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan hatinya untuk warga yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan.
Di mata masyarakat, Maimun bukan sekadar relawan. Ia adalah simbol kepedulian seorang “malaikat tak bersayap” yang hadir ketika warga paling membutuhkan bantuan.