Aliran Dana Diduga Dikuasai PJ Berinisial D, Citra UNIBA Sumenep Tercoreng Tajam

Chibernews.co.id, Sumenep, — Polemik penyelenggaraan Menpora Cup BEM KM UNIBA Madura cabang futsal kini memasuki babak baru yang lebih serius. Setelah berbagai protes peserta terkait minimnya transparansi hadiah, sponsor, serta pengelolaan biaya pendaftaran, sorotan publik kini mengerucut pada satu titik: dugaan penguasaan penuh aliran dana oleh penanggung jawab kegiatan berinisial D, Kamis, (20 November 2025).

Informasi ini menguat setelah muncul pengakuan dari bendahara kegiatan berinisial M, yang menegaskan bahwa seluruh dana yang masuk baik dari pendaftaran maupun sponsor langsung diarahkan dan dikendalikan oleh PJ berinisial D.

“Setiap uang masuk ke saya, itu saya laporkan ke PJ (D), dan saya langsung disuruh tarik serta diserahkan ke PJ. Saya hanya penerima, bukan pemegang,” ungkap M melalui pesan WhatsApp kepada tim redaksi.

Pernyataan ini menjadi pukulan telak dan membuka fakta baru bahwa struktur keuangan panitia tidak berjalan sebagaimana mestinya. Fungsi bendahara yang seharusnya memegang kendali administrasi keuangan justru tereduksi, sementara kendali penuh berada pada satu orang, yakni PJ berinisial D. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: kemana aliran dana ratusan ribu dari puluhan tim peserta tersebut berakhir?

Sebelumnya, admin Instagram Menpora Cup BEM KM UNIBA turut membocorkan hasil rapat internal panitia yang menyepakati nominal hadiah jauh lebih besar Juara 1: Rp2.500.000, Juara 2: Rp2.000.000, Juara 3: Rp1.500.000 dan Juara 4: Rp1.000.000 Namun pada saat pembagian hadiah, nominal tersebut turun drastis menjadi Juara 1: Rp1.000.000, Juara 2: Rp500.000, Juara 3: Rp260.000, Juara 4: Rp230.000

Perbedaan yang begitu mencolok ini memperkuat dugaan bahwa pengelolaan keuangan tidak hanya tidak transparan, tetapi juga tidak akuntabel dan berpotensi disalahgunakan.

“Ini yang bikin gejolak dan bisa merusak citra UNIBA Sumenep sendiri,” tegas admin tersebut dalam pesan yang kini beredar luas di grup peserta.

Kekecewaan peserta terus bergulir. Mereka mempertanyakan hadiah yang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan biaya pendaftaran Rp350.000 per tim.

“Pendaftaran 350 ribu tapi uang pembinaan juara 3 cuma 260 ribu. Masak gak ada rasa belah kasih?” keluh salah satu peserta.

Tidak hanya itu, klarifikasi yang diberikan panitia dinilai tidak profesional dan semakin memperburuk keadaan.

“Loh masak cuma kayak gini mas, klarifikasi-nya? Masak mahasiswa nggak bisa ambil keputusan yang benar di event sebesar ini?” ujar peserta lainnya.

Tim redaksi telah berupaya meminta klarifikasi lebih lanjut dari ketua panitia melalui nomor WhatsApp +6285-956x-xxx, namun hingga berita ini diturunkan, nomor tersebut tidak aktif dan tidak memberikan respons sama sekali.

Upaya serupa dilakukan kepada PJ D yang menjadi pusat sorotan, namun tidak ada tanggapan apa pun. Sikap bungkam ini justru menambah kuat dugaan adanya penyelewengan dalam pengelolaan anggaran event.

Kasus ini menimbulkan gelombang kritik yang tidak hanya menyasar panitia, tetapi juga mencoreng nama baik Kampus UNIBA Sumenep sebagai penyelenggara venue. Alih-alih menjadi ajang sportivitas dan prestasi mahasiswa, Menpora Cup kini dinilai meninggalkan catatan kelam akibat buruknya manajemen internal.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak BEM KM UNIBA maupun panitia resmi kegiatan belum memberikan pernyataan publik. Peserta mendesak agar laporan keuangan dibuka secara transparan serta dilakukan evaluasi menyeluruh demi mengembalikan kepercayaan publik.

Jika polemik ini tidak segera ditangani, Menpora Cup tidak hanya gagal menjadi kebanggaan mahasiswa Madura, tetapi juga berpotensi menciptakan preseden buruk bagi penyelenggaraan event kampus di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *