Chibernews.co.id, Banten — Musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 menyisakan pengalaman menegangkan bagi para penumpang yang berhasil selamat. Salah satunya Dr. Ahmad Murdillah, dokter spesialis radiologi RSUD Datu Sanggul, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Ahmad menceritakan, situasi mulai berubah sekitar pukul 01.00 malam. Kapal yang ditumpanginya perlahan mengalami kemiringan hingga akhirnya dalam waktu kurang lebih satu jam kapal tersebut terbalik, Kamis, (24/09/2016).
Saat kejadian berlangsung, Ahmad masih terjaga. Ia mengaku mengalami mabuk laut cukup berat sehingga tidak dapat tidur.
Kondisi semakin mencekam ketika kemiringan kapal terus bertambah. Ahmad kemudian berpegangan pada pagar kapal sembari berusaha bertahan di tengah hempasan ombak besar.
Dalam situasi tersebut, ia mengaku tidak mengenakan jaket pelampung. Ketika sebuah sekoci mulai mendekat, Ahmad akhirnya mengambil keputusan berisiko dengan melompat dari sisi kapal menuju sekoci.
“Saya memberanikan diri melompat ke arah sekoci yang mendekat. Alhamdulillah, saya berhasil masuk, meskipun sempat mengalami beberapa benturan,” tuturnya.
Setelah berhasil mencapai sekoci, Ahmad masih harus bertahan hingga pagi hari. Ia kemudian dievakuasi oleh kapal yang melintas dan dibawa menuju Pelabuhan Serang, Banten.
Musibah tersebut membuat sejumlah barang miliknya tidak dapat diselamatkan. Sepeda motor milik anaknya, laptop, hingga telepon seluler ikut tenggelam bersama kapal.
“Yang tersisa hanya pakaian yang saya kenakan dan dompet,” ujarnya.
Di tengah kepanikan dan ketidakpastian keselamatan, Ahmad mengaku berusaha menenangkan diri dengan terus berzikir. Ia juga membaca Doa Nabi Yunus sembari berharap pertolongan dan keselamatan.
Setelah berhasil dievakuasi, tubuhnya masih merasakan sakit akibat beberapa kali benturan selama proses menyelamatkan diri. Namun, secara umum kondisi Ahmad disebut dalam keadaan sehat.
Di balik musibah tersebut, Ahmad juga menceritakan tentang putranya yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Surabaya melalui jalur beasiswa dan direncanakan melanjutkan pendidikan ke Taiwan.
Pengalaman tersebut membuat Ahmad semakin menyadari betapa dekatnya seseorang dengan kondisi antara hidup dan mati.
“Saya mengira itu mungkin hari terakhir saya. Alhamdulillah, saya masih diberi keselamatan,” katanya.