Chibernews.co.id, Sumenep — Rencana kegiatan bertajuk “Wisata Healing Biar Gak Pusing” yang diinisiasi Puskesmas Pamolokan dan dijadwalkan berlangsung pada 29–30 November 2025 menuju Probolinggo–Kota Batu terus menuai kritik keras. Poster kegiatan yang beredar luas di media sosial memunculkan gelombang sorotan baru terhadap arah prioritas lembaga kesehatan tersebut.
Kritik publik semakin menguat karena kegiatan ini muncul di saat bangsa sedang berduka. Banjir dan bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memaksa ribuan warga mengungsi, kehilangan rumah, dan berjuang mempertahankan hidup. Tagar #PrayForSumatera bergema di berbagai platform media sosial sebagai wujud solidaritas nasional.
Namun, di tengah suasana duka yang menyelimuti negeri, kemunculan poster wisata oleh Puskesmas Pamolokan memancing tanda tanya besar. Publik mempertanyakan, bagaimana mungkin sebuah institusi kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan justru mengampanyekan agenda rekreasi, tanpa penjelasan transparan mengenai urgensi kegiatan maupun sumber pembiayaannya.
Di tingkat lokal, desakan masyarakat terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan masih sangat kuat. Keluhan mengenai antrean panjang, keterlambatan pelayanan, hingga minimnya edukasi kesehatan kerap terdengar dari warga. Di saat tuntutan untuk memperbaiki mutu layanan begitu besar, kegiatan wisata justru dianggap tidak relevan dan tidak peka terhadap kondisi lapangan.
Sejumlah pemerhati layanan publik menilai penggunaan nama institusi kesehatan untuk kegiatan wisata berpotensi menggerus kepercayaan publik. Ketiadaan informasi terbuka mengenai anggaran, dasar pelaksanaan, serta kontribusi program tersebut terhadap peningkatan kualitas layanan memperlebar kritik masyarakat.
“Di tengah banyaknya keluhan warga soal pelayanan, yang muncul justru poster wisata. Ini menunjukkan buruknya manajemen prioritas,” ujar salah satu pemerhati kebijakan publik di Sumenep.
Upaya konfirmasi juga dilakukan oleh media. Saat dikonfirmasi melalui nomor pribadi Kepala Puskesmas Pamolokan, dr. Novi, di +62 852-33xx-xxxx, pesan terlihat masuk dan dibaca, namun tidak mendapatkan respons hingga berita ini diterbitkan. Sikap bungkam ini semakin memperkuat dugaan minimnya transparansi dalam pelaksanaan program tersebut.
Program bertema healing itu dinilai tidak mencerminkan profesionalisme lembaga medis yang seharusnya fokus pada peningkatan kapasitas dan mutu pelayanan kesehatan. Publik pun semakin mempertanyakan apakah kegiatan itu benar-benar memiliki urgensi atau hanya sebatas agenda seremonial yang tidak berdampak pada layanan kepada masyarakat.
Hingga kini, Puskesmas Pamolokan belum memberikan penjelasan resmi mengenai tujuan program, rincian anggaran, maupun legalitas penggunaan nama institusi dalam kegiatan wisata tersebut.
Di tengah duka nasional dan tuntutan publik yang belum terjawab, masyarakat berharap adanya klarifikasi dan keterbukaan. Lembaga pelayanan kesehatan semestinya menjadi solusi di tengah krisis bukan menambah kontroversi yang mencederai kepercayaan publik.