Praktisi Hukum Menduga Kapolres Pamekasan Sebagai Aktor Yang Merekayasa Kasus Nenek Bahriyah

Pamekasan, Chibernews.co.id,– Dikutip dari media partner chibernews.co.id yang diberitakan oleh media Detikzone.net (Jum’at, 12/04/2024), Kasus dugaan pemalsuan dokumen tanah yang dilaporkan istri polisi (Sri Suhartatik) hingga menjerat Nenek tua Bahriyah (71) warga Kelurahan Gladak Anyar sebagai tersangka dinilai seperti drama Korea (Drakor) yang diduga sudah disetting sedemikian rupa dengan cara cara licik.

Bahkan kejanggalan semakin terlihat saat penetapan tersangka nenek Bahriyah (71) dilakukan kala kasus perdatanya bergulir sejak 5 Januari di Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan.

Diketahui, Unit Idik III Tipidter yang dipimpin Ipda Nur Fajri Alim merupakan unit yang menangani kasus Nenek tua Bahriyah. Sementara itu, Kasatreskrim dan Kapolres AKBP Jazuli Dani Irawan adalah atasannya.

“Kasus yang menjerat Nenek Bahriyah sebagai tersangka tersebut berjalan seperti drama Korea dan diduga sudah disetting dengan cara cara licik. Ada sutradaranya, produsernya, pemeran utamanya dll,” kata praktisi hukum yang dikenal kritis, A. Effendi S.H.

Ia menyebut, nenek Bahriyah semestinya tidak dijadikan tersangka sebelum ada putusan inkrah dari Pengadilan .

“Nenek ini jadi tersangka saat proses perdatanya berjalan di Pengadilan Negeri. Layaknya kejar target dan kejar tayang,” sebutnya.

Menurutnya, kasus tersebut baru ditangguhkan setelah ada surat perintah dari Mabes Polri. “Di awal-awal, Kapolres-nya kan terkesan melakukan pembelaan tuh dihadapan wartawan bahwa sudah sesuai prosedur, dan sertifikat pelapor ada proses jual beli. Lah bukti akta jual belinya tidak ada, ini kan seperti sinetron,” tuturnya

Disisi lain, suami Sri Suhartatik (pelapor) yang merupakan anggota Polsek Pakong malah tidak tahu persis dasar penertiban sertifikat mertuanya atas nama H. Fatollah Anwar.

“Ini arsip yang saya terima dari BPN waktu itu pak Rudi. Kalau mau rekamannya saya punya. Saya ngomong keabsahannya semua saya rekam. Jadi saya mau ke Ombudsman mau kemana saya siap pak. Saya siapkan data-datanya, saya tidak mundur pak kalau urusan saya bener,” kata Aipda Mohammad Erfan dalam cuplikan video viral ada di meja Redaksi.

Namun saat disinggung apakah sebagai penerima waris, suami Sri Suhartatik yang merupakan anggota Polisi itu hanya menjawab semua ulah BPN.

“Nikah kabbi ulanah  BPN pole pak, (ini semua ulahnya BPN Pak, red).
Luas deri pihak kaessah ( dari pihak sana, red )  2.813 sedangkan yang punya saya 1805 . Neng leter C lakar Nika pak  2800, (di Leter C memang 2800,” sebut Aipda Mohammad Erfan sambil menunjuk-nunjuk sertifikat melalui jarinya.

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *